Bouchon Loom Device 1725 | Alat Tenun Inspirasi Teknologi Komputasi


Mesin semi otomatis untuk industri kain sutera pertama di dunia, dibuat oleh Basile Bouchon, seorang pekerja tekstil sederhana dari Lyon, Perancis.

Basile Bouchon, yang bekerja di salah satu dari banyak pusat sutra di Lyon, menciptakan alat tenun semi otomatisnya pada tahun 1725, cara untuk mengendalikan alat tenun dengan pita kertas berlubang.

Bouchon adalah putra seorang pembuat alat tenun dan alat musik kotak (organ). Bouchon terbiasa melihat perputaran silinder yang digunakan ayahnya untuk pembuatan organ otomatis. Dengan demikian dia mengetahui fakta informasi berupa desain-desain penggerak alat musik tersebut, diantaranya adalah desain silinder otomatis yang digunakan sebagai penggerak organ.

Selanjutnya Bouchon mempraktekan pembuatan lubang-lubang pada desain kertas yang melilit silinder, menunjukkan di mana pengrajin harus mengebor lubang di silinder sebagai pasak. Bouchon mungkin memiliki wawasan cemerlang, sehingga tata letak kertas dengan lubang berlubang sudah berisi informasi yang diletakkan pada silinder, sehingga ia menyimpulkan bahwa kertas berlubang dapat mengkode informasi tentang pola kain, yang kemudian ia terapkan pada pengkodean pola tenun untuk alat tenun.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Bouchon telah mengadaptasi konsep alat musik semi otomatis ayahnya, dimana silinder digunakan sebagai pengendali tugas otomatis yang dapat mengerjakan sebagian proses pembuatan alat tenun secara berulang. Ini tentu jauh lebih mempermudah operator tenun dari serangakaian tugas yang sebelumnya memakan waktu lebih lama dan membosankan.

Tiga tahun kemudian, pada tahun 1728, salah satu asisten Bouchon, bernama Jean Baptiste Falcon memperbaiki mesin, memperluas jumlah kabel yang dapat menangani pengaturan pada lubang-lubang dalam barisan alat tenun. Dia juga mengganti gulungan kertas dengan satu set kartu yang saling menempel satu sama lain dalam satu lingkaran tanpa akhir, yang memungkinkan untuk mengubah kinerja alat tenun Bouchon bekerja lebih efisien. Setiap punch card dapat mengontrol satu kait atau jarum. Hal ini menjadikan improvisasi Falcon pada alat tenun Bouchon menjadi lebih baik, karena kartu yang rusak/robek dapat dengan mudah diganti, sedangkan sistem Bouchon sebelumnya mengharuskan seluruh gulungan kertas diganti jika kertas tenun mengalami kerusakan.

Meskipun alat tenun Bouchon dapat menghilangkan kesalahan dalam pengangkatan benang, mereka masih membutuhkan operator tambahan (atau bahkan dua dari mereka) untuk beroperasi. Alat tenun Bouchon dan Falcon sedikit berhasil: sekitar 40 alat tenun tersebut telah dijual pada tahun 1762. Upaya otomatisasi selanjutnya dilakukan oleh Jacques Vaucanson pada tahun 1745, juga tidak terlalu berhasil. Hingga pada tahun 1805, Joseph Marie Jacquard, setelah serangakain kegagalan, mampu mencapai keberhasilan dengan alat tenunnya.


Terlepas dari berbagai keterbatasannya, penemuan Bouchon dan improvisasi Falcon ini selanjutnya dianggap sebagai aplikasi industri pertama dari mesin semi-otomatis yang kemudian menginspirasi penemu teknologi industri dan aplikasi komputasi dimasa selanjutnya.