Semaphore Codes 1792 | Inspirasi Sistem Teknologi Komunikasi

Sandi semafor atau Semaphore Code yang biasa digunakan dalam kegiatan pramuka, atau dalam kegiatan militer, seperti digunakan oleh para operator sebagai rangkaian kegiatan pada kapal perang, pesawat tempur, dan kegiatan militer lainnya, adalah suatu cara untuk mengirim dan menerima berita/informasi dengan cara menggunakan bendera, dayung, batang, tangan kosong atau dengan sarung tangan. Namun kini umumnya yang digunakan dalam kegiatan pramuka dan militer adalah berupa media bendera, dengan isitilah yang lebih dikenal dengan sebutan; sinyal (sandi) bendera semafor (Semaphore Flags Signal).

Claude Chappe adalah seorang penemu Perancis, yang pada tahun 1792 mendemonstrasikan semaphore code (sandi semafor) praktis pertama di dunia, yang akhirnya membentang ke seluruh daratan Perancis . Sistem sandi semaphore karyanya terdiri dari beberapa menara, dimana masing-masing menara terletak antara 5 sampai 20 mil, dan saling terjangkau dalam garis pandang teleskop. Hal itu bertujuan agar memudahkan setiap operator (telegrafer) menara dapat berkomunikasi dengan saling memberikan sinyal optik (sandi semaphore), berupa gerakan pada lengan/batang semaphore. Setiap gerakan semaphore mewakili; kode, huruf, angka, kata, atau bagian dari sebuah kalimat. Penggunaan sandi semaphore saat itu bersifat khusus, digunakan untuk mendukung sistem keamanan dan pertahanan militer, atau hal lainnya terkait keamanan suatu wilayah/negara. Karena itulah akses penggunaan menara semaphore bersifat khusus, dan tidak dapat digunakan secara sembarangan.

Prinsip-prinsip kerja sandi semaphore ini mirip dengan teknik sandi yang dikembangkan oleh orang Yunani. Hal ini dilakukan dengan meletakkan api obor di atas benteng. Sandi-sandi dikirim dengan mengkombinasikan beberapa api obor. Orang-orang Kartago dan Romawi Kuno juga menggunakan teknologi yang sama. Seperti halnya semaphore, umumnya sandi-sandi itu dikirimkan sebagai sinyal peringatan untuk keadaan darurat atau sinyal bahaya, terutama pada masa perang. Efisiensi sistem sandi semaphore dapat menggantikan peranan telik sandi berkuda, yang membutuhkan waktu berhari-hari bahkan beberapa minggu untuk menyampaikan suatu informasi. Dengan penggunaan sandi semaphore hal itu dapat dipersingakat menjadi beberapa jam saja.

Teknologi Semaphore berkembang dengan begitu cepat. Dalam kurang dari 50 tahun, Prancis membangun infrastruktur nasional dengan lebih dari 530 menara dan total jaraknya hampir 5.000 kilometer. Paris dihubungkan dengan Strasbourg, Amsterdam, Toulon, Perpignan, Lyon, Turin, Milan, dan Venice. Di awal abad ke-19, pesan pendek dari Amsterdam ke Venice dapat dikirim tanpa kabel dalam waktu satu jam.

Sistem semaphore ini juga ditiru dalam skala besar oleh negara-negara yang lain. Seperti Swedia yang mengembangkan jaringan semaphore di keseluruhan negara Swedia. Langkah ini juga diikuti oleh Inggris dan Amerika. Tidak lama sesudah itu, Spanyol, Jerman dan Rusia membangun infrastruktur telegraf optik berskala besar. Kebanyakan dari negara-negara tersebut membuat variasi dari telegraf optik milik mereka sendiri, misalnya menggunakan alat pengatur cahaya. Swedia mengembangkan sistem yang dua kali lebih cepat, spanyol mendirikan telegraf yang tahan angin. Setelah itu, telegraf optik juga digunakan pada perkapalan dan lalu lintas kereta api.

Saat ini teknologi menara semaphore sudah tidak digunakan, tetapi metodologi sandi semaphore masih dapat ditemui pada praktek-praktek kegiatan militer dan pramuka (scouts) di seluruh dunia. Dimana pramuka mengadopsi sistem sandi semaphore Claude Chappe dengan menggunakan 2 bendera sebagai media sandi Semaphore.