Silicon (Si) 1823 | Dari Gelas Kaca Hingga IC Monolitik

Elemen Silicon, pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan dari Swedia, Jöns Jakob Berzelius,  pada tahun 1823. Silikon (simbol Si, nomor atom 14). Nama silikon berasal dari bahasa Latin silex atau silicis, yang berarti “batu api” atau “batu keras.”  Unsur Silikon amorf pertama kali diisolasi dan dideskripsikan sebagai unsur pada tahun 1824 Jöns Jakob Berzelius. Selain penemuan elemen silikon, Berzelius menemukan beberapa unsur kimia lainnya, seperti: selenium, thorium, dan serium. Berzelius juga orang pertama yang mengusulkan agar setiap unsur kimia diberi lambang berupa huruf awal dalam bahasa Latin, ia juga ilmuwan yang kemudian menunjukkan bahwa; "setiap atom memiliki keterikatan antar molekul yang disebabkan adanya tegangan listrik."

Silikon merupakan unsur kimia terbanyak kedua pada kerak bumi setelah oksigen. Silikon memiliki 4 Kategori berupa: Silana‎, Silikat‎, Silikon dioksida, dan Tektosilikat. Dilansir dari britanica.com, penggunaan silikon sudah tidak asing lagi bagi orang-orang Mesir di masa pradinastik, mereka telah menggunakannya untuk pembuatan manik-manik, gelas dan vas-vas kecil. Tentu dapat diprediksi, terdapat senyawa alami silikon yang disebut silikat / pasir kaca sebagai bahan dasar untuk membuat peralatan-peralatan itu. Pembuatan gelas yang mengandung silika telah dilakukan oleh orang Mesir, China dan orang-orang Fenisia setidaknya sejak tahun 1500 SM.

Produk-produk berbahan dasar silikon umumnya dapat dikenali dalam tiga jenis silikon berupa:Silikon Padat, Silikon Jel dan Silikon Cair. Unsur-unsur silikon banyak digunakan oleh perusahaan manufaktur dalam memproduksi berbagai bentuk dan peralatan yang banyak ditemui dalam keseharian kita, mulai dari peralatan olah raga, medis dan peralatan rumah tangga semisal; Gelas, botol-botol, bola lampu, cermin dan peralatan lainnya, adalah peralatan-peralatan yang di-identifikasi mengandung senyawa silikon dioksida, yang juga dikenal sebagai silika / silica atau asam silikat (SiO2). Jumlah unsur silikon yang berlimpah memungkinkan suatu produk berbahan dasar silikon dapat diproduksi dalam jumlah besar. 

Dalam pengembangannya, unsur silikon juga diketahui memiliki struktur atom adaptif terhadap suhu yang berada dilingkungannya, menjadikan silikon memiliki sifat semikonduktor yang sangat ideal sebagai penghantar (konduktor) arus listrik, maupun sebagai isolator arus. Ini yang kemudian dimanfaakan oleh Robert Noyce antara tahun 1858-1859, untuk menciptakan IC Monolitik pertama yang ia kembangkan diperusahaan Fairchild Semiconductor, San Jose, California.

Sebelum Robert Noyce menciptakan IC Monolitik, sudah terdapat jenis IC hybrid yang lebih dulu ditemukan oleh Jack Kilby. Namun demikian, penemuan dan pengembangan konsep IC monolitik berbahan silikon, menjadikan IC Monolitik Noyce menjadi jauh lebih praktis dan tahan lama, dibandingkan IC Hybrid Kilby yang berbahan dasar Germanium. IC monolitik Noyce menempatkan semua komponen pada chip silikon dan menghubungkannya dengan saluran tembaga. IC monolitik Noyce kemudian dikembangkan oleh koleganya yang bernama Jean Hoerni, yang selanjutnya disempurnakan oleh Muhammad M. Atalla pada tahun 1959.

Kebanyakan IC modern yang digunakan saat ini, merupakan IC Monolitik berbahan silikon, yang dibuat berdasarkan pada IC monolitik Robert Noyce. Silicon menjadi unsur yang paling banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan elektronik dan komputer sebagai bahan dasar pembuatan IC (Integrated Circuit), Mosffet, Transistor, Dioda, dan komponen eletronik lainnya.