Electromagnetic Induction 1831 | Fenomena Energi Listrik

Sudah sejak lama, ketersediaan aliran listrik dan berbagai teknologi pendukungnya merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia, terutama sejak abad ke 19 hingga saat ini, dimana ilmu pengetahuan dan penelitian menjadi semacam trend global yang berkembang di negara-negara Eropa dan Amerika saat itu. Ini ditengarai dengan lahirnya temuan-temuan teknologi baru dan memunculkan nama-nama tokoh fenomenal yang menciptaknnya. Tidak terkecuali nama Michael Faraday dari Inggris, penemu "Hukum Induksi Elektromagnetik" pada tahun 1831.

Induksi elektromagnetik adalah gejala timbulnya kontraksi gaya gerak listrik yang berasal dari kumparan/konduktor. Induksi elektromagnetik Faraday merupakan  temuan fenomenal abad ke 19, yang telah memberikan kontribusi besar pada perkembangan berbagai teknologi berbasis listrik dan elektronik pada masa-masa selanjutnya. Dilansir dari wikipedia dan beberapa sumber sejarah elektromagnetik, temuan ini kemudian berkembang menjadi prinsip fundamental terciptanya energi listrik dan berbagai peralatan berbasis listrik oleh Faraday seperti; motor listrik, dinamo/generator listrik, induktor dan transformer listrik pertama. Dengan demikian tidak berlebihan, jika beberapa sumber dengan tanpa keraguan menobatkan Michael Faraday sebagai "The father of electrical engineering" atau "Bapak teknik kelistrikan".

Sebelum Michael Faraday menemukan "Hukum Induksi Elektromagnetik", terdapat beberapa penelitian dan teori terkait teori elektromagnetik, tetapi belum dapat memberikan hasil yang benar-benar signifikan dibanding karya Faraday. Namun demikian, sudah menjadi hal yang lumrah dimana beberapa karya oleh para penemu sebelumnya dapat menjadi landasan dan "benang merah" yang menginspirasi bagi para penemu selanjutnya. Seperti hal-nya karya ilmuan Denmark, Hans Christian Ørsted dan karya André-Marie Ampère ilmuan Prancis, dua nama penemu teori elktromagnetik dari dua negara berbeda, yang menjadi inspirasi awal bagi Michael Faraday hingga menciptakan hukum dan temuan-temuan terbaru dari eksperimen elektromagnetik-nya. Meskipun terlihat ada kesamaan pada istilah elektromagnetik, namun implementasi dan hasil yang berbeda menjadikan karya Faraday merupakan karya mandiri yang benar-benar berbeda dari ilmuan lainnya.

Dalam eksperimennya, Faraday berusaha untuk menemukan bagaimana arus induksi (kontraksi arus listrik) dihasilkan. Dengan membuat sebuah alat homopolar generator yang menggunakan lilitan koil primer dan sebuah piringan tembaga dan dapat diputar, dari alat inilah Faraday mengetahui bahawa
arus listrik kontinu dapat dihasilkan dengan cara memutar cakram tembaga di antara kutub magnet yang berasal dari pelek dan pusat cakram. Dimana bagian luar piringan (disk) akan memotong lebih banyak garis daripada bagian dalam, dan dengan demikian akan ada arus listrik kontinu yang dihasilkan dalam rangkaian yang menghubungkan pelek ke pusat. Generator ciptaan Faraday ini adalah dinamo listrik pertama dan sekaligus motor listrik pertama di dunia. Dengan memberikan arus balik listrik pada disk, alat ini dapat berputar secara mandiri. Dinamo ini kemudian dikenal juga dengan nama " Faraday Disc." 

Penemuan "Hukum Induksi Farady" ditandai sebagai tonggak sejarah penentu suatu kemajuan, tidak hanya bagi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga untuk kemaslahatan masyarakat global. Hukum induksi magnetik saat ini digunakan untuk menghasilkan listrik dalam skala besar di berbagai pembangkit listrik dunia. Induksi elektromagnetik Faraday saat ini dikenal juga dengan istilah "arus bolak-balik ", dimana "perubahan yang terjadi pada medan magnet dapat menghasilkan medan/energi listrik" yang oleh James Clerk Maxwell, fisikawan Skotlandia, dibuatkan rumusan matematikanya yang diberi nama sebagai "Hukum Faraday".